Pemikiran Politik Aristoteles

Updated : Aug 08, 2019 in Pendidikan

Pemikiran Politik Aristoteles

Pemikiran Politik Aristoteles

Pemikiran Politik Aristoteles

Busbagus.co.id – Aristoteles merupakan salah seorang pemikir klasik yang lahir di Stagira dan merupakan pendiri dari sekolah yang bernama Lyceum

Adapun beberapa perbedaan pemikiran Plato dengan Aristoteles adalah sebagai berikut:

Plato Aristoteles
Political Idealism Political Realism
Bapak Filsafat Politik Bapak Ilmu Politik
Metode Deduktif Metode Induktif
Utopian Best Possible State
Kewajiban (nature) Hak (aktifitas)
Philosophical Method Scientific and analytical

Adapun keahlian dan kontribusi dari Aristoteles tidak hanya sebatas pada satu bidang disiplin ilmu saja, namun juga memiliki banyak pengaruh di banyak bidang ilmu seperti Aristoteles on Logic, Aristoteles on Mechanics, Aristoteles on Physics, Aristoteles on Phsiology , Aristoteles on Astronomy, Aristoteles on Economics, Aristoteles on Politics. Kontribusi terbesar Aristoteles dalam bidang kajian ilmu sosial adalah pada metodologi yang digunakannya yang berbasis fokus pada rasionalitas, serta adanya integrasi etnik dan sosial, dan memberikan pondasi sistematis dari moral, politik, dan teori sosial beserta beberapa konsep dasar dari ekonomi, hukum, dan pendidikan.

 

Aristoteles memiliki kehidupan yang dekat dengan kekuasaan yang memungkinkannya untuk mempelajari nilai dasar dari one man role (satu penguasa dengan aturannya), ekonomi, dan pentingnya hubungan serta kebijakan luar negeri. Adapun beberapa karya yang dimiliki Aristoteles adalah sebagai berikut: 150 Philosophical Treaties, yang mana 30 diantaranya masalah filsafat dalam biologi dan Psikologi serta hubungannya dengan politik. Aristoteles juga menulis pemikirannya yang kemudian dikenal dengan “Leacture Noted”. Selain itu, Aristoteles juga memiliki 6 karya tulis tentang logika, 26 dengan subjek berbeda tentang dasar ilmu sosial, 4 Dalam etika dan moral3 tentang seni dan puisi. Selebihnya tentang metafisika, ekonomi, sejarah, dan politik. Beberapa tulisan lainnya adalah Dialouges and others works of a popular character,Collections of fact and material from scientific treatmentSystematic tract On the Polity of the Athenians. Beberapa metode yang digunakan oleh Aristoteles adalah sebagai berikut Scientific and analytical methodology, Induktif dan Deduktif, Historical dan Comparative, Teleological and Analogical, Analytical and Observation.

Pondasi Filsafat Teori Politik dan Etika Aristoteles adalah sebagai berikut, politik tidak akan lepas dari ilmu dan etika, fenomena merupakan intepretasi dari bentuk dan ruh, etika menjadi pemandu ilmu politik, negara adalah bentuk dari moral sejati yang membentuk kehidupan.

Nicomachean Ethnics Menurut Aristoteles 

Menurut Aristoteles, negara bukan hanya sekedar komunitas politik ( pemerintahan, sekolah, etika, budaya ). Kualitas dari etika seseorang merupakan bagian dari sebuah proses, “a good man, can only be a good citizen” (kerjasama, toleransi, self-control). Bagi Aristotlese, etika dan politik memiliki hububungan melalui jaur politik, sedangkan basis dari teori politik adalah etika . Teori politik memiliki hubungan dengan teori etika, Ex: orientasi pada etika ( keadilan adalah kebajikan). Beberapa ide politik dari Aristoteles adalah sebagai berikut, tentang adanya teori keadilan. Diperbolehkannya kepemilikan barang, keluarga, dan legalisasi perbudakan. Ide mengenai Teori Revolusi, Teori Negara, Evaluasi Teori Politik

Ide Politik Aristoteles (Teori Keadilan) 

Menurut Aristoteles, keadilan merupakan esensi utama dari negara, politik tidak akan dapat bertahan lama tanpa adanya keadilan dalam hak. Manusia akan dapat hidup dengan baik saat ada hukum dan keadilan yang dijalankan dalam negara. Keadilan berhubungan erat dengan kebajikan, kebajikan yang komplit, dan perwujudan dari seluruh kebaikan. Kebajikan (vertue) yang dilaksanakan adalah keharusan bagi setiap individu, karena bagi Aristoteles, kebajikan menjadi hal yang rasional untuk menegakkan keadilan.

       Keadilan akan menjadikan negara memiliki vision dan mengabungkannya dengan etika. Negara memiliki etika yang tinggi (Fair and Equal), karenanya keadilan dapat memunculkan Vertue (kebajikan). Salah satu tipe keadilan menurut Aristoteles adalahDistributive and Corrective

Keadilan Antara Plato dan Aristoteles

Plato Aristoteles
Keharusan mengerjakan sesuatu (keahlian) Reward ( proposition to what contributes)
Hubungannya dengan kewajiban Hubungannya dengan hak
Moral dan philosophical Legal
Keunggulan individu mengerjakan sesuatu Sesuatu yang sepatutnya diterima
Spiritual Practical, vertue in action, goodness in practice
Related inner self From the soul related to action

 Properti, Keluarga, dan Perbudakan

        Dengan adanya kepemilikan menurut Aristoteles, kepemilikan akan mendatangkan kepuasan psikologi dan mendorong insting manusia untuk menjaga berbagai macam kepemilikannya.  Penggunaan properti sebatas pada pemenuhan kebutuhan hidup tidak lebih, karena hal tersebut dapat merusak individu. Hal tersebut terkait dengan pendapatnya yang melihat properti bagian dari rumah tangga, dan barang siapa yang dapat mengaturnya (property tersebut) berarti dapat mengatur rumah tangganya. Bagi Aristoteles:

            – Kepemilikan pribadi untuk pribadi (bahaya)

            – Kepemilikan bersama untuk pribadi (sosialis)

            – Kepemilikan bersama untuk bersama (dapat dilakukan)

            – Kepemilikan pribadi untuk bersama (memungkinkan)

      Saat berbicara mengenai keluarga, bagi Aristoteles, keluarga adalah identitas  yang dapat digunakan untuk membangun intelektualitas individu dalam masyarakat. Hal tersebut dikarenakan, menurut Aristoteles, keluarga adalah sekolah yang paling utama dalam membangun sosial virtue (kebajikan dalam individu), dimana di dalam keluarga akan terdapat  cinta, kasih sayang, toleransi, pengorbanan, dll. Secara luas, keluarga merupakan kepanjangan dari manusia secara individu, dan desa kepanjangan (cakupan yang lebih luas) dari keluarga, dan negara adalah kepanjangan dari desa dan kumpulan dari berbagai macam keluarga. Oleh karena hal itu, bagi Aristoteles, keluarga adalah hal yang sangat mendasar dalam negara (ruang publik dan ruang private). Menurut Aristoteles, perbudakan adalah hal yang wajar terjadi (budak dan non-budak), bagi Aristoteles, perbudakan sama halnya seperti suami istri  (marital) atau sama halnya seperti hubungan dengan orang tua (parental). Sebuah bentuk hubungan yang secara alami terjadi. Perbudakan merupakan bagian dari properti (alat) untuk melakukan tindakan, hal tersebut diakrenakan budak alami adalah budak karena memang jiwa mereka tidak lengkap – mereka tidak memiliki kualitas tertentu sebagaimana manusia pada umumnya, seperti kemampuan untuk berpikir dengan benar, dan sehingga mereka perlu memiliki master (tuan) untuk memberitahu mereka apa yang harus dilakukan. Hal itulah yang menjadikan budak sebagai ‘alat hidup‘, binatang domestik, yang hanya cocok untuk pekerjaan fisik

Teori Revolusi Menurut Aristoteles

       Instabilitas politik dapat mengakibakan terjadinya Revolusi. Terdapat dua cara untuk melihatnya, yaitu melalui analisa dan bukti empiris. Revolusi merupakan sebuah efek dari situasi dan kondisi dalam sebuah negara yang biasanya sedang bergejolak. Bagi Aistoteles, politik bukanlah studi sistematis tentang filsafat politik, namun lebih kepada sebuah seni dari sebuah pemerintahan dalam menjalankan proses struktur pemerintahan. Revolusi dapat menyebabakan sebuah perubahan baik dalam konstitusi dan perubahan dalam aturan (besar/kecil)

Adapun beberapa arti dari Revolusi menurut Aristoteles adalah sebagai berikut:

  •   Perubahan aturan
  •    Perubahan political in nature
  •    Revolusi istana
  •    Instabilitas politik dan transformasi politik


          Kekerasan, perusakan, dan pertumpahand arah 

Beberapa faktor penyebab terjadinya revolusi:

  • –          Gairah universal untuk hak istimewa dan hak prerogatif yang menyebabkan orang untuk membenci dan memberontak terhadap kondisi yang (tidak adil menurut mereka) dalam hal pangkat atau kekayaan
  • –          Penghinaan berlebihan atau ketamakan penguasa/ kelas berkuasa yang menyebabkan orang bereaksi terhadap mereka
  • –          Kepemilikan oleh satu atau lebih individu pada sebuah kekuasaan
  • –          Sebagai tabir untuk menyembunyikan kejahatan mereka sendiri
  • –          Peningkatan yang tidak proporsional dari setiap bagian (teritorial, sosial, ekonomi atau sebaliknya) dari negara, menyebabkan bagian lain untuk menggunakan cara-cara kekerasan
  • –          Pertikaian dan persaingan dari orang dari berbagai ras;
  • –          Dinamika pertengkaran dan permusuhan keluarga
  • –          Berjuang untuk kedudukan dan kekuasaan politik antara kelas rival dan faksi-faksi politik atau partai

Selain memaparkan penyebab terjadinya sebuah revolusi, Aristoteles juga memaparkan beberapa point penting untuk mencegah terjadinya revolusi

  • –          Adanya ketaatan pada hukum
  • –          Patriotisme
  • –          Pembatasan masa jabatan
  • –          Adaptasi pendidikan dengan bentuk pemerintahan
  • –          Pengakuan negara terhadap individu

Selain itu, Aristoteles juga mengambarkan beberapa gambaran/ pendefinisian mengenai pandangannya tentag sebuah negara, dimana

  • –          Negara pencapaian hidup yanglengkap
  • –          Pemenuh kebutuhan dasar, kehidupan yang lebih baik
  • –          Negara tumbuh (keluarga, desa, negara)
  • –          Negara sebelum individu
  • –          Negara adalah asosiasi dari asosiasi
  • –          Negara seperti organisme manusia
  • –          Negara adalah lebaga self sufficing
  • –          Negara adalah unsur yang membawa keberanekaragaman

Negara terbaik menurut Aristoteles adalah:

  • –          Negara kota kecil
  • –          Wilayahnya sesuai dengan populasi
  • –          Terletak dekat sungai
  • –          Hukum berlaku
  • –          Kekuasaan dipegang orang yang mampu

Evaluasi

Salah satu alasan penting untuk perbedaan ditandai adalah kenyataan bahwa Politik tidak seperti Republik adalah kumpulan dari catatan kuliah dan sejumlah esai yang berbeda ditulis selama periode waktu. Tidak seperti Plato Republik, yang ditulis di latar belakang dari kekalahan Athena dengan Sparta dalam Perang Peloponnesia dan pelaksanaan Socrates oleh demokrasi Athena, karya-karya Aristoteles diukur dalam berpikir dan analisis, mencerminkan pikiran ilmuwan daripada yang dari filsuf.

Baca Artikel Lainnya: