Sep 11, 2021 Pendidikan

7 Film yang Menghancurkan Karir Sang Sutradara,

7 Film Yang Hancurkan Karir Sutradara, Ditelan Bumi!

film-menghancurkan-sutradara

Kesuksesan film layar lebar tidak hanya dilatarbelakangi oleh kepiawaian para aktor dalam memainkan peran, tetapi juga berkat sutradara di balik layar.

Perjuangan untuk menduduki kursi direktur tentu tidak mudah. Mereka harus memiliki banyak pengalaman dan kemampuan untuk mengejar karir di posisi ini.

Ketika mereka berhasil membuat film fenomenal, reputasi mereka sebagai sutradara akan semakin terkenal. Tapi, apa jadinya jika film yang dibuat justru gagal total?

Sampai saat ini sudah banyak film yang gagal mendapatkan banyak hujatan dan kritikan dari kritikus dan fans, geng.

Parahnya lagi, ada film yang menghancurkan karir sutradara, lho! Wah, film seperti apa ya? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

1. Gerbang Surga (1980)

Berkat kesuksesannya sebagai sutradara dalam film The Deer Hunter, Michael Cimino dipercaya untuk menyutradarai film Heaven’s Gate.

Sayangnya, karirnya anjlok setelah rilis film Heaven’s Gate. Alasannya karena film ini terlalu panjang, yaitu 219 menit, dengan jalan cerita yang sangat lambat.

Film yang diproduksi dengan biaya 44 juta dolar itu hanya mampu menghasilkan 3,5 juta dolar. Akhirnya, Heaven’s Gate menjadi salah satu film yang membuat studionya bangkrut.

Bahkan, karir Cimino sebagai sutradara langsung meredup. Ia sebenarnya masih menggarap film setelah Heaven’s Gate, namun pada akhirnya karir Cimino benar-benar padam.

2. Nomor 23 (2007)

Joel Schumacher harus menerima pil pahit atas kegagalan film Batman and Robin. Kegagalan tersebut bahkan membuat Warner Bros mengubur film Batman selama bertahun-tahun.

Tapi, Schumacher masih bisa mempertahankan karirnya. Ia juga kembali menggarap beberapa film seperti 8MM, Tigerland, dan Phone Booth.

Sayangnya, dia tidak bisa bertahan dari filmnya The Number 23 tentang Walter Sparrow yang bekerja sebagai petugas pengontrol hewan dan novel temannya The Number 23.

Singkatnya, Sparrow merasa seperti karakter dalam novel. Bahkan, orang yang dicintainya meninggal setelah dia membaca novel tersebut. Tapi endingnya benar-benar menyebalkan!

Film yang dirusak oleh plot-twist murahan ini menjadi awal kejatuhan Joel Schumacher sebagai sutradara hingga akhirnya berhenti menyutradarai film layar lebar sejak 2011.

3. Fantastic Four (2015)

Salah satu sutradara yang menyalahkan studio atas kegagalan filmnya, Josh Trank juga harus rela karirnya hancur karena kegagalan filmnya.

Film tersebut adalah Fantastic Four, salah satu film superhero gagal yang ditandai dengan konflik antara Trank sebagai sutradara, dan Fox sebagai studio.

Trank dilaporkan berperilaku tidak profesional selama proses pembuatan film dan berkelahi dengan Miles Teller yang dia rekrut sendiri, geng.

Setelah menyutradarai Fantastic Four, yang menjadi film yang mendapat pujian kritis pada tahun 2015, Trank akhirnya mengambil jeda panjang sebagai sutradara.

Namun, ia kembali ke dunia layar lebar dan menyutradarai film Capone yang baru dirilis Mei 2020. Ya, film ini gagal total dan semakin menenggelamkan nama Josh Trank.

4. Evolusi Dragonball (2009)

Kalau kamu pecinta anime Dragon Ball pasti tahu film Dragonball Evolution kan? Ya, ini salah satu film gagal dan paling rugi.

Dragonball Evolution menampilkan efek CGI yang buruk, cerita yang tidak masuk akal, dan karakter yang jauh berbeda dari versi animenya, yang membuat para penggemar Dragon Ball geram.

Film live-action terburuk ini disutradarai oleh Justin Wong. Sayangnya, setelah film ini dihujat, Wong dikabarkan berhenti menjadi sutradara film dan hanya menggarap serial TV.

Berakhirnya karir Wong sebagai sutradara film layar lebar karena studio Hollywood selalu lebih berhati-hati dalam merekrut sutradara.

Inilah yang terjadi pada Wong. Ia tidak menerima tawaran kerja sama untuk menggarap sebuah film layar lebar. Alhasil, ia hanya punya dua pilihan, menjadi sutradara serial TV atau membuat film independen.

5. Jupiter Ascending (2015)

Setelah menyelesaikan trilogi The Matrix, ketiga bersaudara transgender The Wachowskis itu dipercaya untuk menggarap film bujet fantastis.

Sedihnya, ketiga film itu rugi total. Salah satunya Cloud Atlas yang mendapat review cukup positif, namun perolehan 130 juta dolar gagal menutupi biaya produksi yang mencapai 250 juta dolar.

Tiga tahun kemudian, The Wachowskis kembali ke kursi sutradara dan mengerjakan Jupiter Ascending. Sayangnya, film dengan biaya 176 juta rupiah ini juga merugi karena hanya meraup 184 juta rupiah.

Film mahal dan tidak terkenal ini juga berhasil menghancurkan karir penyutradaraannya sehingga nama The Wachowskis tidak lagi muncul di industri film hingga saat ini.

Sumber :